Tampilkan postingan dengan label TAFSIR FIZHILALIL QUR'AN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TAFSIR FIZHILALIL QUR'AN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Mei 2015


يَسْأَلُونَكَ عَنِ الأَنفَالِ قُلِ الأَنفَالُ لِلّهِ وَالرَّسُولِ فَاتَّقُواْ اللّهَ وَأَصْلِحُواْ ذَاتَ بِيْنِكُمْ وَأَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
"Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: ‘Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul, sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.’" (QS. Al-Anfaal: 1)
Sungguh merinding seseorang ketika melihat para peserta Perang Badar membicarakan harta rampasan perang. Padahal, mereka adalah kaum Muhajirin yang telah rela meninggalkan segala sesuatu untuk berhijrah guna menyelamatkan akidah mereka, tanpa menghiraukan kekayaan dunia sedikit pun.
Sementara itu, orang-orang Anshar yang telah membantu kaum Muhajirin dengan merelakan harta dan rumah-rumah mereka untuk dimakan dan ditempati bersama, tidak ada sedikit pun yang bakhil terhadap kekayaan dunia sebagaimana diungkapkan dalam firman-Nya.
وَالَّذِينَ تَبَوَّؤُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
"Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Ansar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 9)
Akan tetapi, kita dapati sebagian tafsir membawakan beberapa riwayat yang memaparkan fenomena ini (fenomena tentang perselisihan antar beberapa individu dalam status kepemilikan harta rampasan perang, red).
Harta rampasan pada waktu itu berhubungan dengan cobaan yang baik dalam peperangan. Dengan begitu, ia menjadi bukti cobaan yang baik. Pada waktu itu, orang-orang sangat berambisi mendapatkan bukti atau kesaksian ini dari Rasulullah dan dari Allah, dalam peperangan pertama untuk mengobati hati mereka dari sakit hati terhadap orang-orang musyrik.
Ambisi ini telah menutup dan mengalahkan persoalan lain yang dilupakan oleh orang-orang yang membicarakan surah Al-Anfaal. Sehingga, Allah mengingatkan mereka dan mengambalikan mereka kepada-Nya.
Inilah keharusan bertoleransi di antara mereka dalam bergaul, serta berdamai dalam hati dan perasaan. Sehingga, mereka menyadarinya sebagaimana yang dikatakan oleh Ubadah ibnush-Shamit r.a.,“Mengenai kami, para peserta Perang Badar, diturunkannya surah ini ketika kami berselisih tentang harta rampasan perang, dan akhlak kami menjadi buruk. Maka, Allah melepaskan harta rampasan itu dari tangan kami, dan menyerahkannya kepada Rasulullah saw.”
Allah telah memberikan tarbiyah Rabbaniyah kepada mereka dengan perkataan dan perbuatan, dengan dilepaskan-Nya seluruh harta rampasan dari tangan mereka dan dikembalikan-Nya kepada Rasulullah. Sehingga, Dia menurunkan hukum mengenai pembagian harta rampasan ini secara keseluruhan.
Maka, harta rampasan ini bukan hak mereka yang patut mereka perselisihkan. Akan tetapi, merupakan karunia dari Allah kepada mereka, yang dibagi-bagikan oleh Rasulullah sebagaimana yang diajarkan Allah kepada beliau. Hal ini selain pendidikan praktis sekaligus merupakan pengarahan jangka panjang, yang dimulai dengan ayat-ayat ini, dan berkelanjutan dengan ayat-ayat berikutnya.
(QS. Al-Anfaal: 1)
Bisikan yang datang kepada hati yang berselisih tentang harta rampasan ini adalah bisikan supaya bertakwa kepada Allah. Mahasuci Pencipta hati Yang Maha Mengetahui rahasia-rahasia hati. Dia tidak memalingkan hati dari kepekaan terhadap kekayaan kehidupan dunia dan tidak melepaskannya, meskipun penjelasan ini sarat dengan makna sebagai bukti terhadap ujian yang baik.
Yaitu, memokuskan perasaan untuk bertakwa kepada Allah, takut kepada-Nya, dan mencari ridha-Nya dalam urusan dunia dan akhirat. Sesungguhnya hati yang tidak bergantung kepada Allah, tidak takut kemurkaan-Nya, dan tidak mencari ridha-Nya, niscaya ia tidak akan dapat lepas dari beban harta kekayaan duniawi dan tidak akan dapat bebas merdeka.
Takwa merupakan kendali hati, yang dapat menuntunnya untuk tunduk dan patuh kepada Allah dengan mudah. Dengan kendali ini, Alquran membimbing hati untuk memperbaiki dirinya sendiri.
“…Sebab itu, bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu…”
Dengan kendali ini, Alquran membimbingnya untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, “Taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya….”
Ketaatan pertama di sini ialah ketaatan kepada hukum yang telah ditetapkan Allah berkenaan dengan harta rampasan perang. Harta rampasan perang itu telah lepas dari tangan seorang peserta perang secara mutlak, dan kepemilikannya secara mendasar kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Maka, hak penggunaan harta itu bermuara kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada sikap lain bagi orang-orang yang beriman selain menyerah kepada hukum Allah dan pembagian Rasulullah dalam masalah harta rampasan perang ini, dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang rela.
Dengan demikian, mereka akan dapat memperbaiki hubungan dan perasaan mereka. Hati mereka menjadi jernih di dalam menghadapi sebagian yang lain. Begitulah, “…Jika kamu adalah orang-orang yang beriman…”
Oleh karena itu, iman harus memiliki bentuk amaliah yang praktis dan tampak jelas. Tujuannya untuk memantapkan keberadaannya dan menerjemahkan hakikatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw.,“Iman itu bukan angan-angan (khayalan) dan bermanis mulut. Akan tetapi, iman adalah sesuatu (keyakinan) yang mantap di dalam hati dan dibuktikan dengan amal.” (HR. Ad-Dailami dari Anas)
Oleh karena itu, komentar semacam ini banyak terdapat di dalam Alquran untuk mengukuhkan makna yang ditetapkan oleh Rasulullah ini, dan untuk mentakrifkan iman dan mendefinisikannya. Juga untuk mengeluarkannya dari sekadar kata-kata yang diucapkan dengan lisan, atau angan-angan kosong yang tidak ada realisasinya dalam dunia amal yang nyata. (bersambung)

Rabu, 27 Mei 2015


Forum Umat Islam (FUI) menyeru seluruh komponen umat Islam di berbagai daerah di seluruh Indonesia melakukan aksi solidaritas untuk Muslim Rohingya. Hal itu sebagai salah satu bentuk pertolongan terhadap mereka yang diusir dan ditindas.
“(Kami) Menyerukan kepada seluruh komponen Masyarakat, khususnya Organisasi-organisasi Umat Islam di berbagai kota/daerah seluruh Indonesia untuk melakukan Aksi Solidaritas dan Doa buat Keselamatan Kaum Muslim Rohingya,” seru FUI dalam pres releasenya yang diterima Kiblat.net, Rabu (27/05).
FUI juga menekan pemerintah Myanmar melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia, untuk segera menghentikan kezaliman yang dilakukan pemerintah, militer, dan terlebih oleh Biksu terhadap minoritas Muslim Rohingya.
Tidak hanya itu, para pengikut Budha di Indonesia juga diminta menekan Budha Myanmar menghentikan permusuhan dan pengusiran kepada umat Islam di Myanmar.
Kepada pemerintah Indonesia, FUI meminta penguasa memberikan memberikan perlindungan dan kehidupan yang layak kepada Muslim Rohingya dengan menyediakan tanah atau pulau untuk tempat tinggal Muslim Rohingya, tidak sekedar menampung mereka sebagai pengungsi.
Terakhir, bagi masyarakat Indonesia, khususnya Umat Islam, untuk memberikan bantuan makanan, obat, pakaian, dan penampungan serta biaya untuk pendidikan anak-anak Muslim Rohingya.
Sebagaimana diketahui, ribuan pengungsi asal Rohingnya terdampar di pantai Aceh. Mereka terkatung-katung di tengah laut selama beberapa bulan, setelah diusir dari kampung halaman mereka. Etnis minoritas itu tidak diakui oleh pemerintah sebagai warga Myanmar, meski mereka lahir dan tumbuh di negara tersebut. 
Reporter: Sulhi El-Izzi
Editor: Hunef Ibrahim

sumber:kiblat.net

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَرَسُولَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ ﴿٢٠﴾ وَلاَ تَكُونُواْ كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَ يَسْمَعُونَ ﴿٢١﴾ إِنَّ شَرَّ الدَّوَابَّ عِندَ اللّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لاَ يَعْقِلُونَ ﴿٢٢﴾ وَلَوْ عَلِمَ اللّهُ فِيهِمْ خَيْرًا لَّأسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّواْ وَّهُم مُّعْرِضُونَ ﴿٢٣﴾
"Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling daripada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya), dan janganlah kamu menjadi sebagai orang-orang (munafik) yang berkata: "Kami mendengarkan, padahal mereka tidak mendengarkan." Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa pun. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu)." (QS. Al-Anfaal [8] : 20-23)
Orang-orang beriman diseru kembali untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Diingatkannya mereka agar jangan berpaling dari-Nya dan jangan menyerupai orang-orang yang mendengar ayat-ayat Allah ketika dibacakan kepada mereka, tetapi seakan-akan mereka tidak mendengarkannya.
Maka, mereka itulah orang yang tuli dan bisu, meskipun mereka mempunyai telinga yang dapat mendengarkan suara dan mulut yang dapatmengucapkan kata-kata. Merekalah seburuk-buruk makhluk melata di muka bumi, karena mereka tidak mengambil petunjuk dari apa yang mereka dengar itu.
Seruan kepada orang-orang yang beriman di sini adalah agar mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Juga agar jangan berpaling dari-Nya padahal mereka mendengar ayat-ayat dan kalimat-kalimat-Nya.
Seruan ini datang setelah dipaparkannya peristiwa-peristiwa peperangan itu, setelah dilihatnya campur tangan Allah, rencana dan ketentuan-Nya, pertolongan dan bantuan-Nya. Juga, setelah adanya penegasan bahwa Allah menyertai orang-orang mukmn dan melemahkan tipu daya orang-orang kafir.
Setelah semua itu, tidak ada alasan utuk tidak mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Berpaling dari Rasul dan perintah-perintahnya sesudah itu semua tampak sekali sebagai sikap yang mungkar dan buruk.
Hal itu tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang memiliki hati untuk merenung dan akal untuk berpikir. Oleh karena itu, disebutkannya binatang melata di sini adalah sangat tepat.
Lafal dawaab ‘makhluk melata’ ini meliputi manusia dengan segala sesuatunya, karena mereka melata atau merayap di muka bumi. Tetapi, penggunaannya lebih banyak untuk binatang. Maka, pengucapannya secara mutlak di sini menampakkan bayang-bayangnya. Gambaran binatang dalam indra dan khayalan ini diberikan kepada “orang yang pekak (tuli) dan bisu yang tidak mengerti apa pun.”
Dengan demikian, menurut bayang-bayang ini, mereka aalah binatang melata, bahkan seburuk-buruk binatang melata. Karena, binatang itu mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengarkan kecuali kata-kata yang tidak jelas.
Binatang itu mempunyai lidah, tetapi tidak dapat mengucapan kata-kata yang dapat dimengerti. Hanya saja binatang mendapatkan petunjuk dengan fitrahnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan urusan kehidupannya yang vital. Sedangkan, binatang-binatang melata (yang berupa manusia sesat) itu urusannya diserahkan kepada akal yang tidak mereka pergunakan. Sehingga, sudah barang tentu mereka menjadi makhluk melata yang paling buruk.
“Sesungguhnya binatang (makhluk) yang seburuk-buruknya pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa-apa. Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar…” (QS. Al-Anfaal [8] : 22-23)
Yakni, menjadikan hati mereka lapang untuk menerima apa yang didengar oleh telinganya. Akan tetapi, Allah tidak melihat kebaikan dalam hati mereka dan tidak melihat adanya keinginan pada mereka terhadap petunjuk.
Karena, mereka telah merusak potensi fitrah untuk menerima dan mematuhi seruan Allah. Maka, Allah tidak membukakan hati yang telah mereka tutup dan fitrah yang telah mereka rusak itu.
Seandainya Allah menjadikan mereka mengerti dengan akal mereka terhadap hakikat sesuatu yang diserukan kepada mereka, maka mereka pun tidak mau membuka hati mereka dan tidak mau menaati apa yang mereka ketahui itu.
“…Dan jika Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedang mereka memalingkan diri (dari apa yang mereka dengar itu).”
Karena akal dapat mengerti, tetapi hatinya sudah tertutup, tidak mau taat. Sampai-sampai andaikata Allah menjadikan mereka dapat mendengar dan mengerti, mereka pun tetap tidak mau mematuhi.
Kepatuhan itu ialah mendengarkan dengan benar. Betapa banyak orang yang pikirannya bisa mengerti, tetapi hatinya tertutup, tidak mau menaati.
sumber: Tafsir Fi Zhilalil Qur'an